
Penutupan PBL Gizi Masyarakat Universitas Borneo Lestari 2026: Refleksi, Apresiasi, dan Harapan untuk Lulusan Profesional
Langkah kaki para mahasiswa semester tujuh itu terasa lebih mantap saat memasuki Auditorium. Bukan lagi sekadar peserta didik, mereka kini membawa pengalaman lapangan yang nyata berinteraksi dengan masyarakat, menganalisis masalah gizi, hingga menyusun intervensi berbasis data. Momentum Penutupan Praktik Belajar Lapangan (PBL) Gizi Masyarakat menjadi penanda bahwa proses pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi tumbuh dan diuji langsung di tengah masyarakat.
Kegiatan penutupan PBL Gizi Masyarakat Program Studi Sarjana Gizi Universitas Borneo Lestari Tahun Akademik 2025/2026 dilaksanakan pada Kamis, 19 Februari 2026, bertempat di Auditorium Universitas Borneo Lestari. Acara ini dihadiri oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kerja Sama, apt. Mochammad Maulidie Alfiannor Saputera, M.Farm, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains Teknologi Hj. Eny Hastuti, S.KM., M.Pd., M.PH.
Turut hadir pula Kepala Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, dr. Juhai Triyanti Agustina, M.Mkes., seluruh dosen Program Studi Sarjana Gizi, 33 mahasiswa semester tujuh, serta para PIC dari sejumlah Puskesmas yang menjadi lokasi praktik.
Acara berlangsung khidmat namun hangat. Dalam sambutannya, Wakil Rektor I menyampaikan bahwa PBL Gizi Masyarakat merupakan fase penting dalam pembentukan kompetensi mahasiswa. Ia menekankan bahwa pengalaman di Puskesmas memberikan pemahaman kontekstual yang tidak selalu ditemukan dalam teori.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains Teknologi menambahkan bahwa pembelajaran lapangan adalah ruang aktualisasi. Di sana mahasiswa belajar memetakan masalah stunting, anemia, hingga perilaku konsumsi masyarakat. Mereka tidak hanya mencatat. Mereka menganalisis dan memberi rekomendasi.
Selama pelaksanaan PBL di berbagai Puskesmas, mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan surveilans gizi, penyuluhan, pendampingan keluarga berisiko, hingga evaluasi program kesehatan masyarakat. Interaksi tersebut membentuk kompetensi teknis sekaligus soft skills. Pengalaman itu kompleks. Ada tantangan komunikasi. Ada kendala budaya. Ada pula keterbatasan sumber daya. Namun dari situ lahir ketahanan profesional.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru dalam pesannya berharap kolaborasi antara institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan terus diperkuat. Menurutnya, sinergi akademisi dan praktisi merupakan kunci peningkatan kualitas layanan gizi masyarakat di daerah.
Penutupan ini bukan akhir. Ini adalah jembatan menuju dunia profesional. Mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan ilmu, etika, dan kepedulian sosial dalam praktik nyata. Secara sederhana, PBL mengajarkan satu hal penting: ilmu gizi bukan sekadar angka kebutuhan kalori. Ia adalah tentang manusia, keluarga, dan kualitas hidup. Dengan terselenggaranya Penutupan PBL Gizi Masyarakat Universitas Borneo Lestari Tahun Akademik 2025/2026, kampus menegaskan komitmennya dalam mencetak sarjana gizi yang unggul, adaptif, dan responsif terhadap tantangan kesehatan masyarakat modern.
















