
Kuliah Tamu Fakultas Farmasi UNBL Bahas Implementasi Farmakovigilans untuk Mencegah Adverse Drug Event
Keselamatan pasien dalam penggunaan obat menjadi salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan modern. Untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai keamanan penggunaan obat, Fakultas Farmasi Universitas Borneo Lestari menyelenggarakan Kuliah Tamu bertema “Implementasi Farmakovigilans dalam Pencegahan Adverse Drug Event (ADE)” yang berlangsung pada Kamis, 4 Juni 2026 di Auditorium Universitas Borneo Lestari dan secara hybrid melalui Zoom Meeting.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang berkompeten di bidang farmasi klinis dan farmakovigilans, yaitu apt. Muhammad Luthfi Aziz, M.Clin.Pharm dan apt. Reni Yustiati Saksono, M.Sc. Acara turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Farmasi Universitas Borneo Lestari, apt. Eka Fitri Susiani, M.Sc., para dosen Fakultas Farmasi, serta mahasiswa Fakultas Farmasi yang mengikuti kegiatan dengan antusias.
Dalam pemaparannya, apt. Muhammad Luthfi Aziz, M.Clin.Pharm menjelaskan bahwa farmakovigilans merupakan kegiatan pemantauan keamanan penggunaan obat untuk memastikan manfaat terapi lebih besar dibandingkan risikonya. Melalui farmakovigilans, tenaga kesehatan dapat mendeteksi, menilai, memahami, serta mencegah efek yang merugikan akibat penggunaan obat.
Beliau juga menjelaskan berbagai kejadian yang dapat memengaruhi keselamatan pasien, seperti Adverse Drug Event (ADE), Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD), medication error, interaksi obat, hingga penggunaan obat yang tidak tepat. Selain itu, peserta mendapatkan pemahaman mengenai Monitoring Efek Samping Obat (MESO), faktor risiko terjadinya efek samping, serta metode penilaian hubungan antara obat dan kejadian yang dialami pasien menggunakan pendekatan WHO-UMC maupun Skala Naranjo.
Sementara itu, apt. Reni Yustiati Saksono, M.Sc menekankan bahwa farmakovigilans tidak hanya berfokus pada pelaporan efek samping obat, tetapi juga mencakup seluruh upaya pengawasan keamanan penggunaan obat secara aktif. Menurutnya, uji klinis sebelum pemasaran belum mampu mengidentifikasi seluruh risiko obat sehingga pemantauan setelah obat digunakan secara luas tetap diperlukan.
Materi yang disampaikan mencakup ruang lingkup farmakovigilans, aktivitas utama berupa deteksi, penilaian, dan pencegahan efek samping obat, serta keterampilan yang harus dimiliki seorang apoteker dalam mengidentifikasi dan mengevaluasi masalah terkait obat. Narasumber juga menyoroti pentingnya pemantauan pada kelompok pasien berisiko tinggi, seperti pasien tuberkulosis, pasien kemoterapi, anak-anak, lansia, serta pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati.
Selain itu, peserta diperkenalkan pada pentingnya penggunaan data laboratorium dalam mendeteksi efek samping obat secara lebih dini serta mekanisme pelaporan dugaan efek samping obat melalui sistem e-MESO BPOM. Pelaporan yang tepat dinilai mampu memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan keselamatan pasien dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan tanya jawab antara mahasiswa dan narasumber. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan terkait penerapan farmakovigilans dalam praktik kefarmasian sehari-hari. Untuk mengukur pemahaman peserta, panitia juga melaksanakan post test sebagai evaluasi hasil pembelajaran.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Farmasi Universitas Borneo Lestari berharap mahasiswa dapat memahami pentingnya farmakovigilans sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Pemahaman yang baik mengenai deteksi, pelaporan, dan pencegahan efek samping obat diharapkan mampu menciptakan tenaga farmasi yang profesional, kompeten, dan berorientasi pada keselamatan pasien.














