
Kuliah Tamu Prodi Gizi UNBL Kupas Mitos dan Fakta Gizi serta Peluang Wirausaha Pangan Lokal
Program Studi Sarjana Gizi Universitas Borneo Lestari menyelenggarakan Kuliah Tamu (Pakar) dengan tema “Mitos & Fakta Gizi di Masyarakat, dan Wirausaha Gizi Berbasis Pangan Lokal” pada Rabu, 18 Desember 2025, bertempat di Auditorium Universitas Borneo Lestari. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh dosen dan mahasiswa Sarjana Gizi dari berbagai angkatan.
Kuliah tamu ini menghadirkan dua narasumber kompeten di bidangnya, yakni Dian Ayu Puspitasari Wahyudi, SE, seorang food entrepreneur, penulis buku resep nasional best seller, pemilik brand @Kopiuleen, sekaligus konsultan dan instruktur memasak, serta Siti Mas’odah, S.Pd., M.Gizi, akademisi dan praktisi gizi. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor I UNBL apt. Mochammad Maulidie Alfiannor Saputera, M.Farm, dan Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains Teknologi, Dicky Septiannoor Khaira, S.Tr.Gz., M.Gz.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan menegaskan bahwa tema mitos dan fakta gizi sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Informasi gizi yang keliru masih banyak beredar dan sering dipercaya tanpa dasar ilmiah. Mahasiswa gizi dituntut tidak hanya memahami ilmu, tetapi juga mampu menyampaikan edukasi yang benar kepada masyarakat secara empatik dan berbasis budaya lokal.
Selain isu edukasi, kuliah tamu ini juga menyoroti wirausaha gizi berbasis pangan lokal. Menurut Dian Ayu Puspitasari, pangan lokal merupakan makanan yang diproduksi, diolah, dan dikonsumsi di daerah setempat dengan memanfaatkan sumber daya alam dan budaya lokal. Pangan lokal lebih segar, bernilai gizi tinggi, dan mendukung ekonomi masyarakat. Untuk sukses berwirausaha, diperlukan strategi yang jelas, mulai dari penentuan target pasar, menjaga kualitas produk, hingga membangun personal branding dan kesan pertama yang kuat. Melestarikan pangan lokal berarti menjaga warisan dunia.
Sementara itu, Siti Mas’odah memaparkan bahwa mitos gizi masih kuat dipercaya masyarakat karena pengaruh budaya, tradisi, dan maraknya informasi tidak valid di media sosial. Mitos gizi dapat berdampak negatif, seperti pola makan tidak seimbang, pantangan makanan bergizi, hingga risiko masalah gizi pada ibu dan anak. Oleh karena itu, fakta gizi harus selalu berbasis bukti ilmiah dan menjadi dasar dalam pedoman gizi seimbang.
Ia menekankan pentingnya variasi makanan seimbang untuk mendukung metabolisme, energi, dan kesehatan jangka panjang. Strategi meluruskan mitos gizi harus dilakukan dengan bahasa yang sederhana, menghargai budaya lokal, menawarkan alternatif yang solutif, serta melibatkan tokoh masyarakat. Di era digital, literasi gizi menjadi kunci utama untuk melawan hoaks dan klaim gizi tanpa bukti.
Melalui kuliah tamu ini, Universitas Borneo Lestari menegaskan komitmennya dalam mencetak sarjana gizi yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap menjadi edukator, inovator, dan wirausahawan gizi. Edukasi gizi bukan sekadar pengetahuan, melainkan investasi kesehatan masyarakat dan masa depan bangsa.













