
Kuliah Pakar Gizi UNBL Tekankan Peran Pangan Lokal Berbasis Evidence dalam Perubahan Perilaku Makan Masyarakat Indonesia
Di tengah derasnya arus tren diet modern dan gaya hidup instan yang membanjiri ruang publik, Program Studi Sarjana Gizi Universitas Borneo Lestari menghadirkan ruang akademik yang reflektif dan berbasis ilmu pengetahuan melalui Kuliah Pakar bertema “Menyaring Tren, Menegakkan Evidence: Peran Pangan Lokal dalam Perubahan Perilaku Makan Masyarakat Indonesia”. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Selasa, 6 Januari 2026, dan diikuti oleh seluruh mahasiswa Prodi Gizi UNBL .
Kuliah pakar ini dibuka dengan sambutan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains Teknologi UNBL, Hj. Eny Hastuti, SKM., M.Pd., M.PH., yang menegaskan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan kesehatan masyarakat saat ini. Dalam sambutannya, ia menyoroti fenomena masyarakat yang kerap mengikuti tren diet global tanpa dasar ilmiah yang kuat, bahkan sering mengabaikan potensi pangan lokal Indonesia yang kaya nilai gizi, budaya, dan keberlanjutan.
“Pangan lokal kita sejatinya sangat beragam dan bergizi. Namun, ia terpinggirkan oleh pola konsumsi instan akibat globalisasi pangan. Melalui forum ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya mengikuti tren, tetapi mampu berpikir kritis, berbasis evidence, dan menjadi agen perubahan dalam membangun perilaku makan sehat masyarakat,” ujar Eny Hastuti.
Sebagai narasumber utama, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum, seorang dokter akademisi dan praktisi gizi komunitas yang dikenal luas atas konsistensinya dalam mengedepankan evidence based nutrition, memaparkan realitas konsumsi pangan masyarakat Indonesia yang dinilainya ironis. Ia menyoroti tingginya konsumsi roti dan mi instan berbahan gandum impor, seolah-olah Indonesia adalah negara empat musim.
“Padahal kita punya ubi, singkong, jagung, talas, dan kentang dengan kandungan gizi yang luar biasa. Ini tragedi pangan yang harus kita sadari bersama, karena berdampak pada kesehatan sekaligus kemandirian ekonomi bangsa,” tegasnya.
Secara sederhana, ia menjelaskan bahwa masalah gizi di Indonesia bukan semata soal ketersediaan makanan, melainkan kesalahan pola konsumsi. Data menunjukkan bahwa 96,7 persen masyarakat Indonesia masih kurang mengonsumsi sayur dan buah, padahal standar kecukupan minimal menurut WHO dan FAO adalah 400 gram per hari untuk orang dewasa sehat.
Dalam paparan yang lebih kompleks, Dr. Tan Shot Yen menguraikan alasan ilmiah mengapa sayur memiliki peran fundamental dalam sistem metabolisme tubuh. Serat dalam sayur membantu mengatur penyerapan lemak dan gula darah, berperan sebagai prebiotik bagi mikrobiota usus, serta memberikan rasa kenyang lebih lama. Selain itu, sayur kaya akan polifenol, antioksidan, vitamin, dan mineral yang bersifat kemopreventif terhadap penyakit degeneratif, kanker, dan penuaan dini.
“Sayur itu functional food yang sesungguhnya. Murah, mudah didapat, tidak mengenal kasta, dan sesuai dengan kebutuhan biologis manusia,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya konsumsi beragam jenis sayur untuk memenuhi kebutuhan mikronutrien yang berbeda, sekaligus sebagai strategi pencegahan penyakit tidak menular. Pesan ini menjadi pengingat kuat bahwa perubahan perilaku makan harus dimulai dari kesadaran berbasis ilmu, bukan sekadar mengikuti tren.
Melalui kuliah pakar ini, Universitas Borneo Lestari menegaskan komitmennya dalam memperkuat pendidikan gizi yang kontekstual, kritis, dan berakar pada potensi lokal. Mahasiswa diharapkan mampu menjadikan forum ini sebagai bekal akademik dan profesional, serta berkontribusi nyata dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih sehat melalui pangan lokal berbasis evidence.










