
Campus Well-Being 2025: Universitas Borneo Lestari Perkuat Integritas Mahasiswa, Cegah NAPZA, dan Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Reproduksi
Isu integritas, penyalahgunaan NAPZA, dan kesehatan reproduksi tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan individual semata, melainkan tantangan bersama yang menentukan kualitas generasi masa depan. Menyadari urgensi tersebut, Universitas Borneo Lestari menghadirkan Seminar Campus Well-Being 2025 sebagai ruang refleksi dan edukasi bagi mahasiswa untuk membangun karakter yang kuat, kesadaran hidup sehat, serta keteguhan sikap di tengah arus disrupsi sosial dan moral yang kian kompleks. Kegiatan ini digelar pada Selasa, 30 Desember 2025 di Auditorium Universitas Borneo Lestari.
Acara ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains Teknologi, Hj. Eny Hastuti, S.KM., M.Pd., M.PH, Ketua Yayasan Borneo Lestari, apt. Drs. H. A. Yanie, M.Si., Wakil Rektor I, apt. Mochammad Maulidie Alfiannor Saputera, M.Farm, serta seluruh mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains Teknologi. Kehadiran para pimpinan kampus menegaskan bahwa isu integritas, narkoba, dan kesehatan reproduksi bukan sekadar wacana, tetapi menjadi agenda strategis kampus.
Narasumber pertama, H. Ibnu Sina, M.Si., mantan Wali Kota Banjarmasin, menekankan bahwa integritas adalah fondasi utama kepemimpinan mahasiswa. Ia menyampaikan bahwa gelar akademik memang dapat membuka peluang, namun karakterlah yang menentukan keberlanjutan kesuksesan. Integritas diwujudkan melalui keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan—mulai dari tidak melakukan plagiarisme, jujur saat ujian, hingga tepat janji dalam kerja kelompok.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Kepala BNN Kota Banjarbaru, Dr. Arif Wahyu Bibitharta, S.H., M.H., M.M., yang memaparkan tren dan tantangan penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja dan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa narkoba masih menjadi persoalan serius nasional dan termasuk isu strategis dalam Asta Cita Presiden RI menuju Indonesia Emas 2045. Faktor geografis Indonesia yang terbuka, jumlah penduduk besar, hingga berkembangnya 96 jenis narkoba baru menjadi tantangan nyata. Kerugian akibat narkoba bahkan mencapai Rp84 triliun. Strategi pencegahan, menurutnya, harus bersifat kolaboratif melalui pengawasan resep obat, peran keluarga, lingkungan tempat tinggal, serta penguatan program P4GN.
Materi ketiga disampaikan oleh dr. Edmond Da Rizka dari Klinik Pratama Borneo Lestari yang mengulas kesehatan reproduksi mahasiswa secara komprehensif. Kesehatan tidak hanya berarti bebas penyakit, tetapi mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial. Ia menjelaskan bahwa kesehatan reproduksi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, ekonomi, hingga psikologis. Literasi kesehatan menjadi kunci agar mahasiswa mampu mengambil keputusan yang rasional dan bertanggung jawab terkait tubuh dan masa depannya.
Melalui seminar ini, Universitas Borneo Lestari menegaskan komitmennya membangun lingkungan kampus yang sehat, aman, dan berintegritas, sekaligus mencetak generasi muda yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga matang secara karakter dan kesadaran sosial.









































