
Membangun Keunggulan UMKM Sasirangan Warna Alam melalui Keberlanjutan Budaya dan Operasi Hijau

Banjarbaru, Kalimantan Selatan — Universitas Borneo Lestari dengan bangga mempublikasikan sebuah infografis ilmiah yang menjadi luaran dari penelitian dosen berjudul Strategi Diferensiasi Green Operation Berbasis Pewarna Alami pada Kain Sasirangan untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif dan Keberlanjutan UMKM. Infografis ini dipersembahkan kepada publik untuk memperkaya wacana tentang strategi keberlanjutan, inovasi UMKM budaya, serta peran nilai budaya dalam memperkuat daya saing produk tradisional di era modern.
Latar Belakang Penelitian
Sasirangan merupakan warisan budaya Banjar yang telah menjadi simbol estetika dan identitas masyarakat Kalimantan Selatan. Di tengah derasnya arus produksi massal dan perubahan perilaku konsumen, UMKM Sasirangan menghadapi tantangan besar: bagaimana menyeimbangkan pelestarian budaya dengan tuntutan pasar, sekaligus menjalankan usaha secara ramah lingkungan dan kompetitif.
Dalam konteks ini, penelitian dosen Universitas Borneo Lestari mencoba menelusuri lebih jauh bagaimana praktik budaya tradisional seperti penggunaan pewarna alami di dalam produksi Sasirangan mampu menghasilkan keunggulan bersaing yang berkelanjutan bagi UMKM.
Peran Mitra Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan melibatkan mitra strategis yang memiliki peran penting dalam ekosistem UMKM Sasirangan, yaitu Aneka Karya Sasirangan, RF Sasirangan, dan Rumah BUMN BNI Banjarbaru.
Aneka Karya Sasirangan berperan sebagai mitra UMKM yang merepresentasikan pelaku usaha Sasirangan yang mengombinasikan praktik pewarna alami dengan kebutuhan pasar. Melalui pengalaman produksinya, mitra ini memberikan gambaran nyata tentang tantangan dan peluang penerapan green operation dalam skala UMKM, termasuk dalam menjaga kualitas, konsistensi warna, dan keberlanjutan usaha.
RF Sasirangan menjadi mitra pengrajin yang berkomitmen menerapkan pewarna alami sebagai bagian dari nilai, etika, dan identitas budaya. Praktik produksi RF Sasirangan merepresentasikan pendekatan keberlanjutan berbasis nilai budaya, di mana proses pewarnaan alami tidak hanya dipandang sebagai teknik produksi, tetapi sebagai ekspresi hubungan harmonis antara kerajinan, alam, dan warisan budaya Banjar.
Sementara itu, Rumah BUMN BNI Banjarbaru berperan sebagai mitra pendukung ekosistem yang memperkuat kapasitas UMKM melalui pendampingan, pelatihan, dan perluasan akses pasar. Keterlibatan Rumah BUMN BNI Banjarbaru menunjukkan pentingnya peran institusi pendukung dalam mendorong UMKM agar mampu mengembangkan praktik ramah lingkungan sekaligus meningkatkan daya saing di pasar yang lebih luas.
Temuan Utama dan Kerangka Konseptual
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keunggulan kompetitif UMKM Sasirangan tidak sekadar ditentukan oleh aspek ekonomi semata, tetapi merupakan hasil dari sinergi empat elemen utama:
1. Legitimasi Kultural
Legitimasi kultural muncul ketika praktik pewarna alami dipahami sebagai bagian tak terpisahkan dari nilai, etika, dan identitas budaya masyarakat Banjar. Penerimaan nilai budaya ini tidak hanya memperkuat komitmen pengrajin terhadap praktik tradisional, tetapi juga meningkatkan daya tarik produk di pasar yang menghargai otentisitas.
2. Operasi Hijau
Praktik operasi hijau ditandai oleh penggunaan bahan alami, pengolahan secara manual, serta pengelolaan sumber daya yang minimal dampak lingkungannya. Pendekatan ini tidak hanya mendapatkan apresiasi dari konsumen modern yang peduli lingkungan, tetapi juga membantu menciptakan proses produksi yang berkelanjutan.
3. Diferensiasi Kultural–Artistik
Proses pewarnaan alami menghasilkan variasi warna, tekstur, dan simbolisme yang tidak seragam dan tidak bisa ditiru secara massal oleh pesaing industri besar. Keunikan visual ini menjadi nilai tambah bagi Sasirangan dalam menghadapi persaingan pasar global.
4. Dukungan Ekosistem
Dukungan pemerintah, komunitas, dan lembaga pendamping UMKM terbukti menjadi faktor penting dalam memperluas akses pasar, meningkatkan legitimasi, dan memperkuat kapasitas pengrajin. Dukungan ini mencakup pelatihan, fasilitasi pameran, serta pembentukan jejaring yang strategis.
Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan
Sinergi antara legitimasi kultural, operasi hijau, diferensiasi artistik–kultural, dan dukungan ekosistem menghasilkan keunggulan kompetitif berkelanjutan bagi UMKM Sasirangan. Keunggulan ini memungkinkan pelaku usaha mempertahankan relevansinya di pasar sekaligus menjaga keberlanjutan budaya dan lingkungan hidup.
Infografis yang dipublikasikan memvisualisasikan temuan penelitian ini secara jelas dan menarik, sehingga dapat digunakan sebagai bahan edukasi, referensi akademik, maupun strategi pengembangan usaha.
Publikasi dan Pengakuan
Infografis ini merupakan salah satu luaran penting dari penelitian dosen Universitas Borneo Lestari yang memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek RI). Penulis penelitian ini adalah Nila Cahya, Ibrahim Rully Effendy, dan Andika Jaya Maulana, yang secara sistematis mengkaji hubungan antara budaya, lingkungan, dan keberlanjutan UMKM dalam konteks ekonomi kreatif.
Harapan dan Implikasi
Diharapkan publikasi ini dapat:
- Memperluas pemahaman masyarakat tentang pentingnya pelestarian budaya dalam ekonomi kreatif.
- Menjadi referensi kebijakan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam mendukung UMKM berbasis budaya.
- Menginspirasi pelaku UMKM untuk mengintegrasikan praktik ramah lingkungan dan nilai budaya ke dalam strategi bisnis mereka.
Sumber:
Hasil penelitian dosen Universitas Borneo Lestari yang didanai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek RI).
Penulis: Cahya, N., Effendy, I. R., Maulana, A. J.



